Bab 3
Acara wisuda berlangsung dengan tenang dan
menggembirakan bagi semua kalangan. Walau ada beberapa yang mesti mengulangi
ujian skripsi, tapi suasana bahagia tetap terpancarkan di wajah mereka yang
telah lulus. Senang merasa terbayarkan dari yang telah dilakukan, senang
masalah besar di kuliah berakhir, senang menanti kehidupan yang berikutnya
telah di depan mata. Menggapai cita-cita yang tertanam semenjak kecil. Tak
sabar menanti hal itu terjadi. Cepat atau lambat, halangan rintangan pasti juga
akan dilalui.
Semenjak jam 8 pagi waktu tersebut, aula kampus yang
megah telah disesaki orang tua dan para wisuda. Arta dibalut dengan kebaya dan
toga membuatnya sedikit risi. Karena banyak yang melihat ke dirinya dengan
tampang tidak percaya. “Sungguh cantik.” Suara yang cempreng terdengar. “Dia
itu lebih manis, bukan cantik.” Kata suara yang lain. Di belakangnya masih
banyak yang mengoceh tentang dirinya. Kali ini biarin mereka tau namaku.
Setidaknya mereka bakal tak pernah lagi. Arta menenangkan diri dengan
megatakan hal itu pada dirinya sendiri.
“Gugup? Nih, aku tadi beli dua. Setidaknya kalau kau
mau.” Suara itu terdengar tak asing bagi Arta. Ditolehnya orang tersebut,
berpakaian jas dibalut dengan baju toga. Kai. Tak percaya, segala hal yang
seharusnya tak ia lakukan sekarang. Bukankah ia harusnya pergi dariku?
Ngapain dia disini? Cowok bodoh. Pekik Arta dongkol.
Satu bulan setelah ia merasa marah pada Kai, sekarang
perasaan marah itu tetap ada. Ia merasa benci pada yang namanya cowok. Hanya
karena ia mengenal paling tidak sepuluh cowok dalam kampusnya. Itu juga tak
semua dekat dengan Arta.
“Aku minta maaf atas semua itu. Aku rasa, kau memang
tak mau lagi kenal denganku. Kuharap ini jadi hari terakhir kita bertemu sebagai
teman. Kau dapat pergi sejauh mungkin dariku setelah ini. Tapi….” Kata Kai
terputus. Arta celingak-celinguk mencari bibinya. Berharap bahwa ayah dan
ibunya yang datang, bukan bibinya. Tapi mungkin itu semua tak akan terjadi,
karena ia tau bahwa sebenarnya mereka sudah tiada. Hanya saja masih disembunyikan
oleh bibinya.
“…sebelum benar-benar berpisah, aku mau jujur padamu.
Aku sayang padamu. Bukan sebagai sahabat. Lebih dari sekedar antara cowok dan
cewek.” Disaat kata itu keluar, Arta baru menoleh. Memandang wajah Kai tak
percaya. “Kau bergurau.” Itulah kata Arta yang mungkin menyakitkan. Tapi memang
kenyataannya menyakitkan. Kai tak tau harus bagaimana bersikap. Duduknya yang
secara kebetulan di samping Arta membuatnya bakal tak nyaman. Berharap acara
tersebut segera selesai dan ia dapat meninggalkan ruangan dengan cepat.
Tiga jam acara berlangsung. Sebanyak seribu mahasiswa
telah lulus dengan sangat baik. Bahkan, diantara mereka mendapatkan penghargaan
dari kampus karena memiliki IPK yang lebih dibanding yang lain. Acara selesai,
para hadirin pulang dengan gembira. Arta mendatangi bibinya yang di depannya
telah ada orang tua seseorang. Seperti teman lama yang tak jumpa. Di
sampingnya, Kai. Oh, kenapa lagi ini? Malas mendekat, ia sejenak pergi
ke toilet. Jaraknya tak jauh dari tempat berdiri antara bibi dan orang tua Kai.
Membenarkan riasan tipis di wajahnya, lalu kembali
menuju bibinya. Tenang, tetap tersenyum seakan kau bahagia tanpa masalah
dengan putranya. Perintah hati sangat ampuh. Ia terbiasa memendam segala
hal di depan orang lain.
“Nah, ini anaknya. Darimana saja kamu, Ta? Sedari tadi
dicari sama teman Ayahmu.” Kata bibi Arta.
“Ayah?” menoleh ke bibi, lalu ke orang tua Kai. “Maaf
Tuan dan Nyonya, mungkin ini tak sopan bagi Anda. Ada apa dengan ayah dan ibu
saya? Kenapa mereka tak pernah kembali?” air mata mulai menetes di pelupuk mata
Arta. Kai yang melihatnya tak mampu menatap cewek itu bersedih. Tangannya sudah
ingin maju, tapi itu terkesan aneh di kedua belah pihak.
“Maaf Nak. Kami baru bisa memberitahumu sekarang.
Ayahmu telah melarangku memberitahumu semenjak dulu. Apalagi ibumu tak ingin
kau bersedih jika aku mengatakannya dari awal. Mereka sekarang baik-baik saja.
Masih sehat di Jepang. Mereka bekerja di perusahaan teknologi ternama. Aku
harap kau tak bersedih lagi karena sudah ditinggal lama.”
“Tuan tidak bohong? Saya rasa Tuan masih
menyembunyikan sesuatu dari saya. Sesuatu hal yang penting.”
“Maaf Nak, seharusnya kata itu sudah aku katakan saat
kau SMP. Sekarang, orang tuamu telah pergi. Selamanya. Mereka meninggal karena
kecelakaan pesawat saat menuju ke Indonesia.” Ayah Ka juga tak kuat harus
mengatakan itu. Pertahanan Arta hencur. Air mata mengalir di pipinya. Wajahnya
merah, sedih. Saat lalu, ia merasa ada hal yang aneh ketika televisi swasta
menyiarkan berita kecelakaan pesawat. Gelisah, memandang bibi lalu ke televisi.
Ia masih terlalu kecil yang tak mengetahui apa-apa. Sekarang semua sudah jelas.
“Pa, lebih baik kita menunggu saat yang tepat untuk
mengatakan semua pada Arta. Dia butuh menenangkan hatinya juga. Papa juga butuh
kekuatan ekstra untuk mengatakannya.” Kai membuka suara di tengah-tengah
kesedihan yang melanda.
Seharusnya ini acara
bahagia, bukan acara sedih. Kenapa harus sekarang kau mengetahuinya, Ta? Kenapa
juga kau bertanya secara langsung? Kau bahkan belum siap untuk mengetahui
sebenarnya. Kenapa kau memaksa dirimu? Arrrgh… Kai menyesal dalam hati karena membiarkan Papanya memberitahu langsung.
Kecewa, sedih, malu, apa saja yang bisa membuatnya menahan semua itu dari awal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar