Prolog
“Aku pulang…” Suaranya yang nyaring, lembut, ingin kasih
sayang hanya menggema di rumah. Tak ada siapapun kecuali dirinya sendiri dan
perabot-perabot rumah. Bibinya selalu datang kerumahnya untuk membawakan
makanan bagi gadis kecil. Bibinya pernah meminta gadis kecil ini untuk menginap
di rumahnya saja. Tetapi tak pernah sekalipun gadis kecil ini pergi
meninggalkan rumahnya. Karena ia ingin menunggu orang tuanya di rumah.
Hujan masih terdengar dengan jelas. Gadis kecil pun
keluar dan bermain hujan-hujanan bersama teman-temannya yang ada di desanya
tanpa mengganti baju seragam. “Ta, seragammu nanti kotor. Ganti saja dulu.”
Suara teman gadis kecil mengingatkan dengan suara lantang mengalahkan suara
bunyi hujan yang tak kalah kerasnya. “Nggak ah. Besok kan libur sekolah. Jadi
nggak perlu repot-repot ganti.” Jawabnya tak kalah lantang daripada teman yang
mengingatkan. “Terserah deh. Kalau nanti banyak noda, jangan salahkan aku atau
ibuku. Aku sudah mengingatkanmu tadi. Oya, nanti ke rumahku ya. Ibuku lagi
masak banyak buat tetangga.” Gadis kecil mengangguk lalu bermain lagi. Ia tahu
bahwa ibu dan ayahnya tak akan pulang untuk hari ini. Jadi, mungkin besok atau
besoknya lagi. Pikirnya yang sederhana. Ia tak pernah tau kenapa ibu dan
ayahnya tak pernah pulang dari dulu sampai sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar