Kamis, 25 Februari 2016

Pelangi dalam Hutan



 lanjutan Bab 4...

“Memang pekerjaanmu apa Kai? Bukannya kau dapat warisan dari ayahmu untuk meneruskan perusahaan yang dulu beliau kelola?”
“Ceritanya panjang, Ta. Mungkin kau akan tidur kalau aku mulai bercerita.” Canda Kai sambil melirik Arta yang tersenyum. Atau lebih tepatnya tertawa tertahan. Lanjutnya, “Sepertinya sudah lama kau tak tersenyum? Apa kau rindu padaku?” godanya lagi.
“Oh… Dasar laki-laki. Apa kau menggodaku, Kaito Hisawa?” matanya melirik Kai yang sedang menyetir. Ujung bibir Kai tertarik membentuk senyum yang manis. Wajahnya yang bersih, bulu matanya yang lentik, bentuk wajahnya yang lonjong tapi tegas, segala sesuatu yang dulu entah kenapa tak pernah terpikirkan di benak Arta. Seharusnya dulu ia bisa seperti sekarang. Terlambat, semua sudah berlalu dan sekarang sepertinya akan baik-baik saja.
“Kenapa kau menatapku seperti itu, Ta? Jangan-jangan kau benar-benar rindu padaku? Ya ampun… memang sudah dua tahun kita tak bertemu. Kali terakhir kita bertemu, kau marah padaku. Sekarang, kau justru seperti ini.” Kai tertawa. Arta mencubit lengan Kai yang mengaduh. “Ampun, Non.” Lanjutnya, “Oh, kita sudah sampai.”
Mereka turun setelah mobil di parker dekat tempat perbelanjaan. Bukan pusat perbelanjaan, tapi banyak yang datang kesana untuk melihat-lihat barang yang bagus dan murah. “Kau tahu sekali kalau aku butuh sesuatu yang harus aku beli.” Ucap Arta tanpa menoleh pada Kai.
“Aku tak tau kalau butuh sesuatu. Kau punya ponsel? Setidaknya aku bisa menghubungimu kalau ada apa-apa dan sebaliknya.”
“Ada. Ini kartu namaku dan nomor ponselku. Hubungi aku kalau kau buuh ditemani.” Arta tersenyum memamerkan giginya yang putih, rapi, dan bersih.
“Bukannya kebalik ya?” Arta tak menggubris karena ia pergi ke sebuah tempat pakaian dan memilih baju. Diambilnya lau dikembalikan lagi. Sampai ia menemukan yang cocok. Pakaian yang bukan untuk dirinya. Tapi untuk bibi dan keponakannya. Ia membeli peralatan tempat tidur, perlengkapan mandi, dan perlengkapan masak untuk beberapa hari.
“Sini, aku bawain beberapa.” Kai meminta tas belanjaan Arta yang sedang kesulitan membawa. Lalu, mereka menuju ke sebuah tempat makan.
“Oh, bisakah kita menaruh barang belanjaanku ini? Sepertinya tak akan nyaman dengan semua ini.” Kai mengangguk setuju. Mereka kembali ke mobil menaruh barang bawaan mereka dan kembali ke dalam untuk makan siang.
“Mau pesan apa?” Tanya Kai setelah mendapat tempat duduk dan memanggil waitress.
“Terserah deh. Aku ngikut. Minumnya jus jeruk.”
“Nasi uduknya dua, jus jeruk satu, sama ice tea lemon satu.” Waitress pergi. Sejenak, mereka saling diam tak tau harus bicara apa. Memulai suatu penjelasan yang tiba-tiba terhenti di tenggorokan.
“Emmm, Kai, aku… aku minta maaf soal yang dulu. Aku membencimu karena kau tak membicarakan masalah itu denganku dahulu. Aku khawatir kau tak mau lagi bersahabat denganku. Aku takut kehilanganmu. Karena, di dunia ini mungkin cuma kau yang mau bersahabat denganku.”
“Hei, aku juga salah. Seharusnya aku tak langsung menuruti ancaman itu. Kau tau, mereka terlalu banyak menuntutku kalau aku memilih salah seorang dari mereka yang sekalipun tak pernah aku punya rasa terhadap mereka. Mereka tak tau tentang itu. Yang mereka tau hanya, aku memiliki prestasi yang baik, perilakuku baik. Mereka tak pernah mengerti apa yang ingin aku lakukan. Seolah-olah, mereka itulah yang menentukan jalanku.”
“Jadi orang terkenal sepertimu sepertinya merepotkan.”
“Kata siapa aku doang? Kau tak pernah tau kalau juga terkenal karena kau seorang cewek cantik plus pintar yang misterius. Apa kau sadar?” percakapan mereka berhenti karena makanan pesanan mereka telah datang.
“Aku? Bagaimana mungkin? Oh… kau pasti salah.”
“Hei… Aku bicara sesuai kenyataan. Aku dapat bertemu denganmu karena para cowok membincangkanmu. Aku jadi penasaran, sehingga ku coba. Ternyata, kau tak sulit seperti cerita mereka. Kau justru lebih terbuka dari yang kukira. Walau aku tak mengerti sepenuhnya tentang dirimu.”
“Aku dapat menerimamu dengan mudah karena aku tau kau orangnya tak pernah terbuka dengan orang lain. Kau pasti bertanya bagaimana aku bisa tau. Karena aku telah meneliti semua orang termasuk dirimu yang tak pernah sadar kalau aku diam-diam mengamatimu. Bagaimana kau berteman, kau bersikap, di saat sendiri, apa yang akan kau lakukan jika kau diberi pilihan dan pilihan itu sulit. Aku jauh telah mengenalmu tentang sifatmu. Kau tak pernah punya niat untuk membocorkan rahasia orang lain kepada selainnya. Kau ingat saat aku mengatakan ‘Jangan kau katakan pada orang lain’ saat aku memberi tau namaku?...” “Ya.” Jawab Kai, Arta meneruskan penjelasannya, ”Saat itulah aku mencoba menyelidikimu lebih lanjut saat kau tak mengetahui keberadaanku.”
“Wow… Aku tak pernah terpikir sampai ke situ. Kau benar-benar dapat membuatnya jadi lebih mudah, Ta. Jadi, kau juga melakukan hal serupa pada karyawanmu?”
“Tentu, secara diam-diam aku menyamar dan melihat kinerja karyawanku. Hasilnya sperti yang bisa kau bayangkan. Banyak yang aku pecat karena menggelapkan uang perusahaan untuk hal-hal pribadi. Mereka meminta bukti? Tentu saja, dan aku langsung memberikan bukti itu. Mereka tercengang, wajahnya pucat dan keringat bercucuran. Bos justru senang dengan keberadaanku. Mungkin itu akan menguntungkan perusahaan. Jadi, aku harus bisa menyeleksi semua karyawan baru yang melamar pekerjaan di perusahaan tempat aku bekerja. Awalnya memang tak mudah, tapi karena aku tak mau perusahaan bangkrut cepat aku memilih jalan itu.”
“Mungkin bisa aku terapkan pada perusahaan ayahku. Karyawanku sering mengajukan proposal dengan dana besar. Jadi, perusahaan sering hutang pada bank. Untungnya kami dapat mengembalikan uang pada bank tepat waktu. Kalau tidak, tamat riwayat perusahaan. Ta, kalau kau mau, bekerjalah di perusahaanku. Sepertinya aku butuh orang sepertimu.” Pinta Kai.
Arta menatap wajah Kai yang sungguh menginginkan hadirnya di perusahaan Kai. “Pasti sulit, Kai. Aku harus mengulang dari awal, bukan? Kalau kau menjadikanku langsung jadi manajer, pasti banyak dari karyawanmu yang nggak setuju.” Protes Arta. Ia memakan makanannya yang telah dingin. Kai melakukan hal yang sama. Berpikir. Menemukan jalan tengah yang dapat membuat keduanya untung.
“Kayaknya ada satu posisi yang sedang kosong sekarang. Harus ada pengganti cepat. Akan kutanyakan pada Bosmu besok.” Terang Kai yang langsung membuat Arta tersedak. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu. Ide gila sebenarnya. Tapi, apa salahnya mencoba?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar