Bab 4
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah dua
tahun lamanya. Arta yang tengah menjalani hidup di sebuah perusahaan ternama,
terlihat sibuk dengan aktivitasnya sebagai manajer pemasaran. Setiap kali
bawahannya melakukan kesalahan, ia harus menyuruh revisi sampai beberapa kali
sampai benar. Kadang, keadaan seperti membuat banyak musuh. Tetapi tidak dengan
pemilik perusahaan maupun karyawannya. Mereka justru senang karena kinerja Arta
sangat baik.
Semenjak itu, hubungan Kai dan Arta juga terputus. Saling
menjauhi satu sama lain. Tak ada kata sapaan di pesan maupun media social. Ayah
Kai yang mempunyai hutang penjelasan juga tak berkunjung ke rumah bibi Arta.
Padahal, ia ingin mendengar penjelasan lebih lanjut. Bibi Arta juga sudah mulai
menua, sehingga Arta yang menjadi tulang punggung mereka. Anak dari bibi Arta
sudah mulai duduk bangku SMA. Sedangkan yang masih kecil tengah duduk di bangku
SD.
“Bu, ada yang mencari Anda.” Kata karyawannya
membuyarkan lamunan Arta.
“Suruh masuk saja, Zy.” Kata Arta pada yang namanya
Ozy tersebut. Ozy menggerakkan tangannya mempersilakan seorang tamu yang
berpakain rapi layaknya orang atas. Berjas hitam, berdasi hitam putih, kemeja
putih, dan sepatu mengkilat. Tak lupa, ia mengenakan kacamata berbingkai hitam
seperti warna jas yang ia kenakan.
“Selamat siang.” Sapa tamu tersebut. “Selamat siang.
Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapa balik Arta.
“Apa benar Anda yang bernama Arta Gianata yang dulu
kuliah S1 di Surabaya?”
“Benar. Maaf sebelumnya, siapa Anda? Bagaimana Anda
bisa tahu nama saya?”
“Apa kau lupa denganku, Ta?” mendengar kalimat itu,
jantung Arta seakan berhenti berdetak. Ia telah menutupi semua hal tentang
dirinya. Tak ada satupun diantara temannya yang ia beritahu dimana ia akan
bekerja. Lalu bagaimana orang ini bisa menemukan dirinya yang daerahnya pun
terbilang luas.
“Maaf…” lanjutnya, “Apa kau ada waktu senggang? Kalau
kau mau, temani aku jalan-jalan dan makan siang. Bisa?” yang ditanya masih
diam. Mulutnya terbuka akan mengatakan sesuatu dan tiba-tiba seorang karyawan
memberikan laporannya. Diraihnya laporan itu oleh Arta. Membuka, membaca,
meneliti. Ia mengangguk sesekali.
“Ok, kamu bisa lanjutkan laporanmu yang lainnya.”
Diserahkan kembali laporan itu dan sang karyawan keluar. Tamu di depan Arta
masih menunggu sabar.
“Aku tak tau harus bilang apa padamu. Yang jelas, ini
memang waktunya jam makan siang, apalagi setelah ini mungkin aku nggak ada
kerjaan. Jadi, aku setuju jalan-jalan dan makan siang denganmu. Ada sesuatu
yang harus akuu omongin denganmu.” Arta tersenyum, begitu pula Kai.
“Baik, kita berangkat sekarang. Ngomong-ngomong, kau
sekarang terlihat…” Arta menatap Kai, “…terlihat sangat cantik.” Pipi Arta
merona. Cepat-cepat disembunyikannya hal itu. Takut kalau ketahuan oleh Kai.
Tapi ia terus tersenyum ketika Kai mendahuluinya berjalan. Arta pamit kepada
sekretarisnya agar laporan para karyawan yang dibawahinya dititipkan sementara
pada sekretarisnya.
“Kau seperti orang besar, Ta. Tapi memang kau orang besar. Mungkin aku kalah denganmu.” Kai membuka suara pertama saat mobilnya
berjalan mulus di jalan raya.
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar