Jumat, 12 Februari 2016

Pelangi dalam Hutan




Bab 1


1o tahun kemudian . . .
Dulu yang disebut gadis kecil, sekarang sudah berbeda. Ia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, berwibawa, manis, baik, cerdas, rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi kelebihan darinya. Sebenarnya, banyak yang mengejar gadis ini untuk dijadikan kekasihnya. Namun, ia tak sedikitpun mengatakan “Ya” pada para pengejarnya. dengan kejadian seperti itu pula, semakin banyak yang mencoba mendapatkan hati gadis “kecil” ini. Hingga sampai suatu hari di kampus tempat ia belajar, seorang cowok mendekati gadis “kecil”. Cowok itu pun mengajaknya berkenalan dan meminta untuk mengantarnya ke sebuah toko buku dekat kampus yang sebenarnya sudah tua  bahkan hampir robohlah toko tersebut. Meskipun keadaannya sedemikian, toko itu masih banyak pengunjung, terutama di kalangan mahasiswa yang mencari referensi untuk tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Gadis “kecil” menuruti kata cowok tersebut. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju toko buku.
“Namamu siapa?” Tanya si cowok sembari menunduk melihat jalan. Lanjutnya, “Aku Kaito Hisawa.” Yang disampingnya hanya mengangguk, tak memberikan jawaban sepatah kata. Sulit untuk membuat gadis ini membuka mulut untuk perbincangan yang dirasa hanya basa-basi tanpa ujung. Gadis yang sangat beda dari yang lainnya dan menjadikannya misteri bagi para lelaki di sekitarnya. “Mungkin untuk kamu saja yang tau. Jangan pernah mengatakannya pada siapapun. Termasuk orang tua bahkan sahabatmu. Jika kamu punya sahabat. Namaku Arta Gianata. Rumahku masih sekitar Surabaya, tapi cukup jauh dari kota. Kalau kamu sendiri?”
Kaito tercengang. Mulutnya menganga lebar bahkan ia sampai tak sadar kalau ia masih ada di tengah perjalanan menuju toko buku. “Kai?” Arta melambaikan tangannya di depan wajah Kai. Sedangkan Kai masih bengong, bingung mau bersikap bagaimana, bicara apa. “Sorry, bukan maksudku begitu. Ku kira berkenalan denganmu sangat sulit seperti cerita teman-temanku. Tapi ternyata tidak. Kenapa kau tak pernah mencoba berkenalan dengan yang lain?” ujarnya. “Tentu saja aku masih mau menemanimu ke toko itu, Kai. Dan aku harap, aku bisa mengenalmu lebih baik dari ini. Karena kupikir kesan pertama yang kau berikan tadi cukup lucu. Bagiku.” Jawab Arta yang diikuti senyum di wajahnya. Kai kagum pada senyum gadis yang ada di depannya. Mungkin ini adalah keberuntungannya bisa berkenalan dan melihat senyum dari gadis misterius di kampusnya.
“Baiklah bisa kita teruskan perjalanan ini atau kita akan tetap seperti ini?” Tanya Arta membuyarkan lamunan Kai. “Tentu saja kita lanjutkan. Dan bolehkah kau menceritakan tentangmu? Aku ingin tau bagaiman kehidupanmu dulu.”kata Kai. “Sebelum itu, bisakah kau menjawab pertanyaanku yang tadi? Dimana kamu tinggal?” bujuk Arta meminta jawaban.
“Oh itu, aku tinggal di apartemen Pakuwon. Aku hanya sendirian. Orang tuaku kerja di Jepang dan tinggal disana.” Alis Arta bertaut. Kai menoleh mengamati wajah Arta yang tiba-tiba aneh, menurutnya. “Ada apa?” tanyanya. “Kenapa kamu nggak sekalian ikut ke Jepang? Sekolah disana bukannya lebih baik daripada di Indonesia? Dan bahkan disana pendidikannya sudah dijamin oleh pemerintah sana.”  Kai diam. Ada sesuatu yang tak menyenangkan dalam diamnya dan itu bisa diarasakan oleh Arta. Akhirnya, Arta diam juga. Sisa perjalanan menuju toko buku dihabiskan untuk diam tanpa ada satu kata pun keluar dari mulut mereka. Sesampainya di toko masih tetap diam. Arta menyerah. “Apakah kita akan tetap diam seperti ini? Aku minta maaf, mungkin kataku tadi ada yang membuatmu tak senang. Aku tak tau tentang masa lalumu. Jika kamu mau bercerita kepadaku, akan aku dengarkan dengan senang hati. Dan lagi kita baru berteman beberapa menit yang lalu, tetapi kita sudah seperti ini. Apa jadinya nanti kalau sudah ada satu tahun bahkan kurang dari itu?” ujar Arta.
“Maaf.” Ungkap Kai. Wajahnya menunduk seperti tengah mengamati buku biru laut yang digenggamnya. Entah apa yang dipikirkan Kai. Arta mengira itu suatu yang tak bisa diungkapkan dengan mudah. Mungkin butuh waktu untuk bisa mengungkapkan segala hal yang terpendam dalam hatinya. Tak ada teman sekelasnya yang tau tentang dirinya. Kai begitu serupa dengan Arta, bedanya Arta tak pernah ingin ada seseorang yang tau namanya. Sedangkan Kai, ia bisa dekat dengan siapapun, bahkan penjual bakso di kantin kampusnya. Tetapi keinginan membuka diri begitu sulit, apalagi teman-temannya suka membocorkan rahasia orang lain. “Kalau ada waktu, bisakah aku meminta tolong padamu? Dan kau juga bisa meminta tolong padaku kalau kau butuh sesuatu. Aku bisa saja mengantarmu pergi kemana pun, jika aku punya waktu kosong.” Lanjut Kai sembari menatap gadis di sampingnya. Arta mengangguk tersenyum. Mulai hari itu, mereka menjadi teman. Teman yang sama-sama memiliki suatu hal yang akan terkuak seiring berjalannya waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar