Bab 1
1o tahun kemudian . . .
Dulu yang disebut gadis kecil, sekarang sudah berbeda.
Ia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, berwibawa, manis, baik, cerdas,
rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi kelebihan darinya.
Sebenarnya, banyak yang mengejar gadis ini untuk dijadikan kekasihnya. Namun,
ia tak sedikitpun mengatakan “Ya” pada para pengejarnya. dengan kejadian
seperti itu pula, semakin banyak yang mencoba mendapatkan hati gadis “kecil”
ini. Hingga sampai suatu hari di kampus tempat ia belajar, seorang cowok mendekati
gadis “kecil”. Cowok itu pun mengajaknya berkenalan dan meminta untuk
mengantarnya ke sebuah toko buku dekat kampus yang sebenarnya sudah tua bahkan hampir robohlah toko tersebut.
Meskipun keadaannya sedemikian, toko itu masih banyak pengunjung, terutama di
kalangan mahasiswa yang mencari referensi untuk tugas-tugas kuliah yang
menumpuk. Gadis “kecil” menuruti kata cowok tersebut. Mereka berjalan menyusuri
jalan setapak menuju toko buku.
“Namamu siapa?” Tanya si cowok sembari menunduk
melihat jalan. Lanjutnya, “Aku Kaito Hisawa.” Yang disampingnya hanya
mengangguk, tak memberikan jawaban sepatah kata. Sulit untuk membuat gadis ini
membuka mulut untuk perbincangan yang dirasa hanya basa-basi tanpa ujung. Gadis
yang sangat beda dari yang lainnya dan menjadikannya misteri bagi para lelaki
di sekitarnya. “Mungkin untuk kamu saja yang tau. Jangan pernah mengatakannya
pada siapapun. Termasuk orang tua bahkan sahabatmu. Jika kamu punya sahabat.
Namaku Arta Gianata. Rumahku masih sekitar Surabaya, tapi cukup jauh dari kota.
Kalau kamu sendiri?”
Kaito tercengang. Mulutnya menganga lebar bahkan ia
sampai tak sadar kalau ia masih ada di tengah perjalanan menuju toko buku.
“Kai?” Arta melambaikan tangannya di depan wajah Kai. Sedangkan Kai masih
bengong, bingung mau bersikap bagaimana, bicara apa. “Sorry, bukan maksudku
begitu. Ku kira berkenalan denganmu sangat sulit seperti cerita teman-temanku.
Tapi ternyata tidak. Kenapa kau tak pernah mencoba berkenalan dengan yang lain?”
ujarnya. “Tentu saja aku masih mau menemanimu ke toko itu, Kai. Dan aku harap,
aku bisa mengenalmu lebih baik dari ini. Karena kupikir kesan pertama yang kau
berikan tadi cukup lucu. Bagiku.” Jawab Arta yang diikuti senyum di wajahnya.
Kai kagum pada senyum gadis yang ada di depannya. Mungkin ini adalah
keberuntungannya bisa berkenalan dan melihat senyum dari gadis misterius di
kampusnya.
“Baiklah bisa kita teruskan perjalanan ini atau kita
akan tetap seperti ini?” Tanya Arta membuyarkan lamunan Kai. “Tentu saja kita
lanjutkan. Dan bolehkah kau menceritakan tentangmu? Aku ingin tau bagaiman
kehidupanmu dulu.”kata Kai. “Sebelum itu, bisakah kau menjawab pertanyaanku
yang tadi? Dimana kamu tinggal?” bujuk Arta meminta jawaban.
“Oh itu, aku tinggal di apartemen Pakuwon. Aku hanya
sendirian. Orang tuaku kerja di Jepang dan tinggal disana.” Alis Arta bertaut.
Kai menoleh mengamati wajah Arta yang tiba-tiba aneh, menurutnya. “Ada apa?”
tanyanya. “Kenapa kamu nggak sekalian ikut ke Jepang? Sekolah disana bukannya
lebih baik daripada di Indonesia? Dan bahkan disana pendidikannya sudah dijamin
oleh pemerintah sana.” Kai diam. Ada
sesuatu yang tak menyenangkan dalam diamnya dan itu bisa diarasakan oleh Arta.
Akhirnya, Arta diam juga. Sisa perjalanan menuju toko buku dihabiskan untuk
diam tanpa ada satu kata pun keluar dari mulut mereka. Sesampainya di toko
masih tetap diam. Arta menyerah. “Apakah kita akan tetap diam seperti ini? Aku
minta maaf, mungkin kataku tadi ada yang membuatmu tak senang. Aku tak tau
tentang masa lalumu. Jika kamu mau bercerita kepadaku, akan aku dengarkan
dengan senang hati. Dan lagi kita baru berteman beberapa menit yang lalu,
tetapi kita sudah seperti ini. Apa jadinya nanti kalau sudah ada satu tahun
bahkan kurang dari itu?” ujar Arta.
“Maaf.” Ungkap Kai.
Wajahnya menunduk seperti tengah mengamati buku biru laut yang digenggamnya.
Entah apa yang dipikirkan Kai. Arta mengira itu suatu yang tak bisa diungkapkan
dengan mudah. Mungkin butuh waktu untuk bisa mengungkapkan segala hal yang
terpendam dalam hatinya. Tak ada teman sekelasnya yang tau tentang dirinya. Kai
begitu serupa dengan Arta, bedanya Arta tak pernah ingin ada seseorang yang tau
namanya. Sedangkan Kai, ia bisa dekat dengan siapapun, bahkan penjual bakso di
kantin kampusnya. Tetapi keinginan membuka diri begitu sulit, apalagi
teman-temannya suka membocorkan rahasia orang lain. “Kalau ada waktu, bisakah
aku meminta tolong padamu? Dan kau juga bisa meminta tolong padaku kalau kau
butuh sesuatu. Aku bisa saja mengantarmu pergi kemana pun, jika aku punya waktu
kosong.” Lanjut Kai sembari menatap gadis di sampingnya. Arta mengangguk
tersenyum. Mulai hari itu, mereka menjadi teman. Teman yang sama-sama memiliki
suatu hal yang akan terkuak seiring berjalannya waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar