lanjutan Bab 4...
“Memang pekerjaanmu apa Kai? Bukannya kau dapat
warisan dari ayahmu untuk meneruskan perusahaan yang dulu beliau kelola?”
“Ceritanya panjang, Ta. Mungkin kau akan tidur kalau
aku mulai bercerita.” Canda Kai sambil melirik Arta yang tersenyum. Atau lebih
tepatnya tertawa tertahan. Lanjutnya, “Sepertinya sudah lama kau tak tersenyum?
Apa kau rindu padaku?” godanya lagi.
“Oh… Dasar laki-laki. Apa kau menggodaku, Kaito
Hisawa?” matanya melirik Kai yang sedang menyetir. Ujung bibir Kai tertarik
membentuk senyum yang manis. Wajahnya yang bersih, bulu matanya yang lentik,
bentuk wajahnya yang lonjong tapi tegas, segala sesuatu yang dulu entah kenapa
tak pernah terpikirkan di benak Arta. Seharusnya dulu ia bisa seperti sekarang.
Terlambat, semua sudah berlalu dan sekarang sepertinya akan baik-baik saja.
“Kenapa kau menatapku seperti itu, Ta? Jangan-jangan
kau benar-benar rindu padaku? Ya ampun… memang sudah dua tahun kita tak
bertemu. Kali terakhir kita bertemu, kau marah padaku. Sekarang, kau justru
seperti ini.” Kai tertawa. Arta mencubit lengan Kai yang mengaduh. “Ampun,
Non.” Lanjutnya, “Oh, kita sudah sampai.”
Mereka turun setelah mobil di parker dekat tempat
perbelanjaan. Bukan pusat perbelanjaan, tapi banyak yang datang kesana untuk
melihat-lihat barang yang bagus dan murah. “Kau tahu sekali kalau aku butuh
sesuatu yang harus aku beli.” Ucap Arta tanpa menoleh pada Kai.
“Aku tak tau kalau butuh sesuatu. Kau punya ponsel?
Setidaknya aku bisa menghubungimu kalau ada apa-apa dan sebaliknya.”
“Ada. Ini kartu namaku dan nomor ponselku. Hubungi aku
kalau kau buuh ditemani.” Arta tersenyum memamerkan giginya yang putih, rapi,
dan bersih.
“Bukannya kebalik ya?” Arta tak menggubris karena ia
pergi ke sebuah tempat pakaian dan memilih baju. Diambilnya lau dikembalikan
lagi. Sampai ia menemukan yang cocok. Pakaian yang bukan untuk dirinya. Tapi
untuk bibi dan keponakannya. Ia membeli peralatan tempat tidur, perlengkapan
mandi, dan perlengkapan masak untuk beberapa hari.
“Sini, aku bawain beberapa.” Kai meminta tas belanjaan
Arta yang sedang kesulitan membawa. Lalu, mereka menuju ke sebuah tempat makan.
“Oh, bisakah kita menaruh barang belanjaanku ini?
Sepertinya tak akan nyaman dengan semua ini.” Kai mengangguk setuju. Mereka
kembali ke mobil menaruh barang bawaan mereka dan kembali ke dalam untuk makan
siang.
“Mau pesan apa?” Tanya Kai setelah mendapat tempat
duduk dan memanggil waitress.
“Terserah deh. Aku ngikut. Minumnya jus jeruk.”
“Nasi uduknya dua, jus jeruk satu, sama ice tea lemon
satu.” Waitress pergi. Sejenak, mereka saling diam tak tau harus bicara apa.
Memulai suatu penjelasan yang tiba-tiba terhenti di tenggorokan.
“Emmm, Kai, aku… aku minta maaf soal yang dulu. Aku
membencimu karena kau tak membicarakan masalah itu denganku dahulu. Aku
khawatir kau tak mau lagi bersahabat denganku. Aku takut kehilanganmu. Karena,
di dunia ini mungkin cuma kau yang mau bersahabat denganku.”
“Hei, aku juga salah. Seharusnya aku tak langsung
menuruti ancaman itu. Kau tau, mereka terlalu banyak menuntutku kalau aku
memilih salah seorang dari mereka yang sekalipun tak pernah aku punya rasa
terhadap mereka. Mereka tak tau tentang itu. Yang mereka tau hanya, aku
memiliki prestasi yang baik, perilakuku baik. Mereka tak pernah mengerti apa
yang ingin aku lakukan. Seolah-olah, mereka itulah yang menentukan jalanku.”
“Jadi orang terkenal sepertimu sepertinya merepotkan.”
“Kata siapa aku doang? Kau tak pernah tau kalau juga
terkenal karena kau seorang cewek cantik plus pintar yang misterius. Apa kau
sadar?” percakapan mereka berhenti karena makanan pesanan mereka telah datang.
“Aku? Bagaimana mungkin? Oh… kau pasti salah.”
“Hei… Aku bicara sesuai kenyataan. Aku dapat bertemu
denganmu karena para cowok membincangkanmu. Aku jadi penasaran, sehingga ku
coba. Ternyata, kau tak sulit seperti cerita mereka. Kau justru lebih terbuka
dari yang kukira. Walau aku tak mengerti sepenuhnya tentang dirimu.”
“Aku dapat menerimamu dengan mudah karena aku tau kau
orangnya tak pernah terbuka dengan orang lain. Kau pasti bertanya bagaimana aku
bisa tau. Karena aku telah meneliti semua orang termasuk dirimu yang tak pernah
sadar kalau aku diam-diam mengamatimu. Bagaimana kau berteman, kau bersikap, di
saat sendiri, apa yang akan kau lakukan jika kau diberi pilihan dan pilihan itu
sulit. Aku jauh telah mengenalmu tentang sifatmu. Kau tak pernah punya niat
untuk membocorkan rahasia orang lain kepada selainnya. Kau ingat saat aku
mengatakan ‘Jangan kau katakan pada orang lain’ saat aku memberi tau
namaku?...” “Ya.” Jawab Kai, Arta meneruskan penjelasannya, ”Saat itulah aku
mencoba menyelidikimu lebih lanjut saat kau tak mengetahui keberadaanku.”
“Wow… Aku tak pernah terpikir sampai ke situ. Kau
benar-benar dapat membuatnya jadi lebih mudah, Ta. Jadi, kau juga melakukan hal
serupa pada karyawanmu?”
“Tentu, secara diam-diam aku menyamar dan melihat
kinerja karyawanku. Hasilnya sperti yang bisa kau bayangkan. Banyak yang aku
pecat karena menggelapkan uang perusahaan untuk hal-hal pribadi. Mereka meminta
bukti? Tentu saja, dan aku langsung memberikan bukti itu. Mereka tercengang,
wajahnya pucat dan keringat bercucuran. Bos justru senang dengan keberadaanku.
Mungkin itu akan menguntungkan perusahaan. Jadi, aku harus bisa menyeleksi
semua karyawan baru yang melamar pekerjaan di perusahaan tempat aku bekerja.
Awalnya memang tak mudah, tapi karena aku tak mau perusahaan bangkrut cepat aku
memilih jalan itu.”
“Mungkin bisa aku terapkan pada perusahaan ayahku.
Karyawanku sering mengajukan proposal dengan dana besar. Jadi, perusahaan
sering hutang pada bank. Untungnya kami dapat mengembalikan uang pada bank
tepat waktu. Kalau tidak, tamat riwayat perusahaan. Ta, kalau kau mau,
bekerjalah di perusahaanku. Sepertinya aku butuh orang sepertimu.” Pinta Kai.
Arta menatap wajah Kai yang sungguh menginginkan
hadirnya di perusahaan Kai. “Pasti sulit, Kai. Aku harus mengulang dari awal,
bukan? Kalau kau menjadikanku langsung jadi manajer, pasti banyak dari
karyawanmu yang nggak setuju.” Protes Arta. Ia memakan makanannya yang telah
dingin. Kai melakukan hal yang sama. Berpikir. Menemukan jalan tengah yang
dapat membuat keduanya untung.
“Kayaknya ada satu
posisi yang sedang kosong sekarang. Harus ada pengganti cepat. Akan kutanyakan
pada Bosmu besok.” Terang Kai yang langsung membuat Arta tersedak. Entah apa
yang dipikirkan laki-laki itu. Ide gila sebenarnya. Tapi, apa salahnya mencoba?