Selasa, 11 Oktober 2016

Berbeda

Terakhir kali kutulis segala hal itu, entah kapan. Rasanya ingin kembali menjadi seorang yang tetap. Namun, tak ada yang mendukungku saat itu hingga kini. Lalu, aku harus bagaimana untuk mengawali lagi? Kupikir, dengan aku menjauh, semua akan baik-baik saja. Ternyata aku harus berjuang lagi untuk selalu terus menulis. Nyatanya, aku harus memendam itu sampai kapanpun...

Kamis, 25 Februari 2016

Pelangi dalam Hutan



 lanjutan Bab 4...

“Memang pekerjaanmu apa Kai? Bukannya kau dapat warisan dari ayahmu untuk meneruskan perusahaan yang dulu beliau kelola?”
“Ceritanya panjang, Ta. Mungkin kau akan tidur kalau aku mulai bercerita.” Canda Kai sambil melirik Arta yang tersenyum. Atau lebih tepatnya tertawa tertahan. Lanjutnya, “Sepertinya sudah lama kau tak tersenyum? Apa kau rindu padaku?” godanya lagi.
“Oh… Dasar laki-laki. Apa kau menggodaku, Kaito Hisawa?” matanya melirik Kai yang sedang menyetir. Ujung bibir Kai tertarik membentuk senyum yang manis. Wajahnya yang bersih, bulu matanya yang lentik, bentuk wajahnya yang lonjong tapi tegas, segala sesuatu yang dulu entah kenapa tak pernah terpikirkan di benak Arta. Seharusnya dulu ia bisa seperti sekarang. Terlambat, semua sudah berlalu dan sekarang sepertinya akan baik-baik saja.
“Kenapa kau menatapku seperti itu, Ta? Jangan-jangan kau benar-benar rindu padaku? Ya ampun… memang sudah dua tahun kita tak bertemu. Kali terakhir kita bertemu, kau marah padaku. Sekarang, kau justru seperti ini.” Kai tertawa. Arta mencubit lengan Kai yang mengaduh. “Ampun, Non.” Lanjutnya, “Oh, kita sudah sampai.”
Mereka turun setelah mobil di parker dekat tempat perbelanjaan. Bukan pusat perbelanjaan, tapi banyak yang datang kesana untuk melihat-lihat barang yang bagus dan murah. “Kau tahu sekali kalau aku butuh sesuatu yang harus aku beli.” Ucap Arta tanpa menoleh pada Kai.
“Aku tak tau kalau butuh sesuatu. Kau punya ponsel? Setidaknya aku bisa menghubungimu kalau ada apa-apa dan sebaliknya.”
“Ada. Ini kartu namaku dan nomor ponselku. Hubungi aku kalau kau buuh ditemani.” Arta tersenyum memamerkan giginya yang putih, rapi, dan bersih.
“Bukannya kebalik ya?” Arta tak menggubris karena ia pergi ke sebuah tempat pakaian dan memilih baju. Diambilnya lau dikembalikan lagi. Sampai ia menemukan yang cocok. Pakaian yang bukan untuk dirinya. Tapi untuk bibi dan keponakannya. Ia membeli peralatan tempat tidur, perlengkapan mandi, dan perlengkapan masak untuk beberapa hari.
“Sini, aku bawain beberapa.” Kai meminta tas belanjaan Arta yang sedang kesulitan membawa. Lalu, mereka menuju ke sebuah tempat makan.
“Oh, bisakah kita menaruh barang belanjaanku ini? Sepertinya tak akan nyaman dengan semua ini.” Kai mengangguk setuju. Mereka kembali ke mobil menaruh barang bawaan mereka dan kembali ke dalam untuk makan siang.
“Mau pesan apa?” Tanya Kai setelah mendapat tempat duduk dan memanggil waitress.
“Terserah deh. Aku ngikut. Minumnya jus jeruk.”
“Nasi uduknya dua, jus jeruk satu, sama ice tea lemon satu.” Waitress pergi. Sejenak, mereka saling diam tak tau harus bicara apa. Memulai suatu penjelasan yang tiba-tiba terhenti di tenggorokan.
“Emmm, Kai, aku… aku minta maaf soal yang dulu. Aku membencimu karena kau tak membicarakan masalah itu denganku dahulu. Aku khawatir kau tak mau lagi bersahabat denganku. Aku takut kehilanganmu. Karena, di dunia ini mungkin cuma kau yang mau bersahabat denganku.”
“Hei, aku juga salah. Seharusnya aku tak langsung menuruti ancaman itu. Kau tau, mereka terlalu banyak menuntutku kalau aku memilih salah seorang dari mereka yang sekalipun tak pernah aku punya rasa terhadap mereka. Mereka tak tau tentang itu. Yang mereka tau hanya, aku memiliki prestasi yang baik, perilakuku baik. Mereka tak pernah mengerti apa yang ingin aku lakukan. Seolah-olah, mereka itulah yang menentukan jalanku.”
“Jadi orang terkenal sepertimu sepertinya merepotkan.”
“Kata siapa aku doang? Kau tak pernah tau kalau juga terkenal karena kau seorang cewek cantik plus pintar yang misterius. Apa kau sadar?” percakapan mereka berhenti karena makanan pesanan mereka telah datang.
“Aku? Bagaimana mungkin? Oh… kau pasti salah.”
“Hei… Aku bicara sesuai kenyataan. Aku dapat bertemu denganmu karena para cowok membincangkanmu. Aku jadi penasaran, sehingga ku coba. Ternyata, kau tak sulit seperti cerita mereka. Kau justru lebih terbuka dari yang kukira. Walau aku tak mengerti sepenuhnya tentang dirimu.”
“Aku dapat menerimamu dengan mudah karena aku tau kau orangnya tak pernah terbuka dengan orang lain. Kau pasti bertanya bagaimana aku bisa tau. Karena aku telah meneliti semua orang termasuk dirimu yang tak pernah sadar kalau aku diam-diam mengamatimu. Bagaimana kau berteman, kau bersikap, di saat sendiri, apa yang akan kau lakukan jika kau diberi pilihan dan pilihan itu sulit. Aku jauh telah mengenalmu tentang sifatmu. Kau tak pernah punya niat untuk membocorkan rahasia orang lain kepada selainnya. Kau ingat saat aku mengatakan ‘Jangan kau katakan pada orang lain’ saat aku memberi tau namaku?...” “Ya.” Jawab Kai, Arta meneruskan penjelasannya, ”Saat itulah aku mencoba menyelidikimu lebih lanjut saat kau tak mengetahui keberadaanku.”
“Wow… Aku tak pernah terpikir sampai ke situ. Kau benar-benar dapat membuatnya jadi lebih mudah, Ta. Jadi, kau juga melakukan hal serupa pada karyawanmu?”
“Tentu, secara diam-diam aku menyamar dan melihat kinerja karyawanku. Hasilnya sperti yang bisa kau bayangkan. Banyak yang aku pecat karena menggelapkan uang perusahaan untuk hal-hal pribadi. Mereka meminta bukti? Tentu saja, dan aku langsung memberikan bukti itu. Mereka tercengang, wajahnya pucat dan keringat bercucuran. Bos justru senang dengan keberadaanku. Mungkin itu akan menguntungkan perusahaan. Jadi, aku harus bisa menyeleksi semua karyawan baru yang melamar pekerjaan di perusahaan tempat aku bekerja. Awalnya memang tak mudah, tapi karena aku tak mau perusahaan bangkrut cepat aku memilih jalan itu.”
“Mungkin bisa aku terapkan pada perusahaan ayahku. Karyawanku sering mengajukan proposal dengan dana besar. Jadi, perusahaan sering hutang pada bank. Untungnya kami dapat mengembalikan uang pada bank tepat waktu. Kalau tidak, tamat riwayat perusahaan. Ta, kalau kau mau, bekerjalah di perusahaanku. Sepertinya aku butuh orang sepertimu.” Pinta Kai.
Arta menatap wajah Kai yang sungguh menginginkan hadirnya di perusahaan Kai. “Pasti sulit, Kai. Aku harus mengulang dari awal, bukan? Kalau kau menjadikanku langsung jadi manajer, pasti banyak dari karyawanmu yang nggak setuju.” Protes Arta. Ia memakan makanannya yang telah dingin. Kai melakukan hal yang sama. Berpikir. Menemukan jalan tengah yang dapat membuat keduanya untung.
“Kayaknya ada satu posisi yang sedang kosong sekarang. Harus ada pengganti cepat. Akan kutanyakan pada Bosmu besok.” Terang Kai yang langsung membuat Arta tersedak. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu. Ide gila sebenarnya. Tapi, apa salahnya mencoba?

Selasa, 23 Februari 2016

Pelangi dalam Hutan


Bab 4
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah dua tahun lamanya. Arta yang tengah menjalani hidup di sebuah perusahaan ternama, terlihat sibuk dengan aktivitasnya sebagai manajer pemasaran. Setiap kali bawahannya melakukan kesalahan, ia harus menyuruh revisi sampai beberapa kali sampai benar. Kadang, keadaan seperti membuat banyak musuh. Tetapi tidak dengan pemilik perusahaan maupun karyawannya. Mereka justru senang karena kinerja Arta sangat baik.
Semenjak itu, hubungan Kai dan Arta juga terputus. Saling menjauhi satu sama lain. Tak ada kata sapaan di pesan maupun media social. Ayah Kai yang mempunyai hutang penjelasan juga tak berkunjung ke rumah bibi Arta. Padahal, ia ingin mendengar penjelasan lebih lanjut. Bibi Arta juga sudah mulai menua, sehingga Arta yang menjadi tulang punggung mereka. Anak dari bibi Arta sudah mulai duduk bangku SMA. Sedangkan yang masih kecil tengah duduk di bangku SD.
“Bu, ada yang mencari Anda.” Kata karyawannya membuyarkan lamunan Arta.
“Suruh masuk saja, Zy.” Kata Arta pada yang namanya Ozy tersebut. Ozy menggerakkan tangannya mempersilakan seorang tamu yang berpakain rapi layaknya orang atas. Berjas hitam, berdasi hitam putih, kemeja putih, dan sepatu mengkilat. Tak lupa, ia mengenakan kacamata berbingkai hitam seperti warna jas yang ia kenakan.
“Selamat siang.” Sapa tamu tersebut. “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapa balik Arta.
“Apa benar Anda yang bernama Arta Gianata yang dulu kuliah S1 di Surabaya?”
“Benar. Maaf sebelumnya, siapa Anda? Bagaimana Anda bisa tahu nama saya?”
“Apa kau lupa denganku, Ta?” mendengar kalimat itu, jantung Arta seakan berhenti berdetak. Ia telah menutupi semua hal tentang dirinya. Tak ada satupun diantara temannya yang ia beritahu dimana ia akan bekerja. Lalu bagaimana orang ini bisa menemukan dirinya yang daerahnya pun terbilang luas.
“Maaf…” lanjutnya, “Apa kau ada waktu senggang? Kalau kau mau, temani aku jalan-jalan dan makan siang. Bisa?” yang ditanya masih diam. Mulutnya terbuka akan mengatakan sesuatu dan tiba-tiba seorang karyawan memberikan laporannya. Diraihnya laporan itu oleh Arta. Membuka, membaca, meneliti. Ia mengangguk sesekali.
“Ok, kamu bisa lanjutkan laporanmu yang lainnya.” Diserahkan kembali laporan itu dan sang karyawan keluar. Tamu di depan Arta masih menunggu sabar.
“Aku tak tau harus bilang apa padamu. Yang jelas, ini memang waktunya jam makan siang, apalagi setelah ini mungkin aku nggak ada kerjaan. Jadi, aku setuju jalan-jalan dan makan siang denganmu. Ada sesuatu yang harus akuu omongin denganmu.” Arta tersenyum, begitu pula Kai.
“Baik, kita berangkat sekarang. Ngomong-ngomong, kau sekarang terlihat…” Arta menatap Kai, “…terlihat sangat cantik.” Pipi Arta merona. Cepat-cepat disembunyikannya hal itu. Takut kalau ketahuan oleh Kai. Tapi ia terus tersenyum ketika Kai mendahuluinya berjalan. Arta pamit kepada sekretarisnya agar laporan para karyawan yang dibawahinya dititipkan sementara pada sekretarisnya.
“Kau seperti orang besar, Ta. Tapi memang kau orang besar. Mungkin aku kalah denganmu.” Kai membuka suara pertama saat mobilnya berjalan mulus di jalan raya.

to be continued...

Senin, 22 Februari 2016

Pelangi dalam Hutan



Bab 3
Acara wisuda berlangsung dengan tenang dan menggembirakan bagi semua kalangan. Walau ada beberapa yang mesti mengulangi ujian skripsi, tapi suasana bahagia tetap terpancarkan di wajah mereka yang telah lulus. Senang merasa terbayarkan dari yang telah dilakukan, senang masalah besar di kuliah berakhir, senang menanti kehidupan yang berikutnya telah di depan mata. Menggapai cita-cita yang tertanam semenjak kecil. Tak sabar menanti hal itu terjadi. Cepat atau lambat, halangan rintangan pasti juga akan dilalui.
Semenjak jam 8 pagi waktu tersebut, aula kampus yang megah telah disesaki orang tua dan para wisuda. Arta dibalut dengan kebaya dan toga membuatnya sedikit risi. Karena banyak yang melihat ke dirinya dengan tampang tidak percaya. “Sungguh cantik.” Suara yang cempreng terdengar. “Dia itu lebih manis, bukan cantik.” Kata suara yang lain. Di belakangnya masih banyak yang mengoceh tentang dirinya. Kali ini biarin mereka tau namaku. Setidaknya mereka bakal tak pernah lagi. Arta menenangkan diri dengan megatakan hal itu pada dirinya sendiri.
“Gugup? Nih, aku tadi beli dua. Setidaknya kalau kau mau.” Suara itu terdengar tak asing bagi Arta. Ditolehnya orang tersebut, berpakaian jas dibalut dengan baju toga. Kai. Tak percaya, segala hal yang seharusnya tak ia lakukan sekarang. Bukankah ia harusnya pergi dariku? Ngapain dia disini? Cowok bodoh. Pekik Arta dongkol.
Satu bulan setelah ia merasa marah pada Kai, sekarang perasaan marah itu tetap ada. Ia merasa benci pada yang namanya cowok. Hanya karena ia mengenal paling tidak sepuluh cowok dalam kampusnya. Itu juga tak semua dekat dengan Arta.
“Aku minta maaf atas semua itu. Aku rasa, kau memang tak mau lagi kenal denganku. Kuharap ini jadi hari terakhir kita bertemu sebagai teman. Kau dapat pergi sejauh mungkin dariku setelah ini. Tapi….” Kata Kai terputus. Arta celingak-celinguk mencari bibinya. Berharap bahwa ayah dan ibunya yang datang, bukan bibinya. Tapi mungkin itu semua tak akan terjadi, karena ia tau bahwa sebenarnya mereka sudah tiada. Hanya saja masih disembunyikan oleh bibinya.
“…sebelum benar-benar berpisah, aku mau jujur padamu. Aku sayang padamu. Bukan sebagai sahabat. Lebih dari sekedar antara cowok dan cewek.” Disaat kata itu keluar, Arta baru menoleh. Memandang wajah Kai tak percaya. “Kau bergurau.” Itulah kata Arta yang mungkin menyakitkan. Tapi memang kenyataannya menyakitkan. Kai tak tau harus bagaimana bersikap. Duduknya yang secara kebetulan di samping Arta membuatnya bakal tak nyaman. Berharap acara tersebut segera selesai dan ia dapat meninggalkan ruangan dengan cepat.
Tiga jam acara berlangsung. Sebanyak seribu mahasiswa telah lulus dengan sangat baik. Bahkan, diantara mereka mendapatkan penghargaan dari kampus karena memiliki IPK yang lebih dibanding yang lain. Acara selesai, para hadirin pulang dengan gembira. Arta mendatangi bibinya yang di depannya telah ada orang tua seseorang. Seperti teman lama yang tak jumpa. Di sampingnya, Kai. Oh, kenapa lagi ini? Malas mendekat, ia sejenak pergi ke toilet. Jaraknya tak jauh dari tempat berdiri antara bibi dan orang tua Kai.
Membenarkan riasan tipis di wajahnya, lalu kembali menuju bibinya. Tenang, tetap tersenyum seakan kau bahagia tanpa masalah dengan putranya. Perintah hati sangat ampuh. Ia terbiasa memendam segala hal di depan orang lain.
“Nah, ini anaknya. Darimana saja kamu, Ta? Sedari tadi dicari sama teman Ayahmu.” Kata bibi Arta.
“Ayah?” menoleh ke bibi, lalu ke orang tua Kai. “Maaf Tuan dan Nyonya, mungkin ini tak sopan bagi Anda. Ada apa dengan ayah dan ibu saya? Kenapa mereka tak pernah kembali?” air mata mulai menetes di pelupuk mata Arta. Kai yang melihatnya tak mampu menatap cewek itu bersedih. Tangannya sudah ingin maju, tapi itu terkesan aneh di kedua belah pihak.
“Maaf Nak. Kami baru bisa memberitahumu sekarang. Ayahmu telah melarangku memberitahumu semenjak dulu. Apalagi ibumu tak ingin kau bersedih jika aku mengatakannya dari awal. Mereka sekarang baik-baik saja. Masih sehat di Jepang. Mereka bekerja di perusahaan teknologi ternama. Aku harap kau tak bersedih lagi karena sudah ditinggal lama.”
“Tuan tidak bohong? Saya rasa Tuan masih menyembunyikan sesuatu dari saya. Sesuatu hal yang penting.”
“Maaf Nak, seharusnya kata itu sudah aku katakan saat kau SMP. Sekarang, orang tuamu telah pergi. Selamanya. Mereka meninggal karena kecelakaan pesawat saat menuju ke Indonesia.” Ayah Ka juga tak kuat harus mengatakan itu. Pertahanan Arta hencur. Air mata mengalir di pipinya. Wajahnya merah, sedih. Saat lalu, ia merasa ada hal yang aneh ketika televisi swasta menyiarkan berita kecelakaan pesawat. Gelisah, memandang bibi lalu ke televisi. Ia masih terlalu kecil yang tak mengetahui apa-apa. Sekarang semua sudah jelas.
“Pa, lebih baik kita menunggu saat yang tepat untuk mengatakan semua pada Arta. Dia butuh menenangkan hatinya juga. Papa juga butuh kekuatan ekstra untuk mengatakannya.” Kai membuka suara di tengah-tengah kesedihan yang melanda.
Seharusnya ini acara bahagia, bukan acara sedih. Kenapa harus sekarang kau mengetahuinya, Ta? Kenapa juga kau bertanya secara langsung? Kau bahkan belum siap untuk mengetahui sebenarnya. Kenapa kau memaksa dirimu? Arrrgh… Kai menyesal dalam hati karena membiarkan Papanya memberitahu langsung. Kecewa, sedih, malu, apa saja yang bisa membuatnya menahan semua itu dari awal.