Tak perlu jauh-jauh, di Indonesia juga punya cerita yang bisa dibanggain dan bisa juga memalukan (setuju tak?). Bahkan, seseorang dari anggota penjajah menulis History of Java. Jadi, di dalam diri kalian pasti ada suatu hal yang bisa dijadikan cerita. Baik keluarga, teman, guru, anak-cucu kalian. Cerita itu pula yang bisa menjadikan sebuah pelajaran untuk kalian. Atau bahkan cerita itu sungguh mengecewekan, sehingga kalian mencoba untuk melupakan-nya. Memang, adakalanya cerita itu tak ingin benar-benar diingat. Tapi, pernahkah kalian memikirkannya baik-baik sebelum melupakan keseluruhannya? Adakah di cerita itu memiliki sebuah makna tertentu bagi kalian? Atau hal itu menjadikan kalian menjadi seorang pribadi yang seperti sekarang? Pantang menyerah, gesit, lincah, bahkan sekarang bisa jadi sudah sukses besar. Menjadi seorang yang penting, sibuk, dan bahkan seperti tak punya waktu luang untuk menghibur diri. Sebelum itu, sebelum menjadi sukses, apa yang ada di benak kalian jika mengingat masa lau kalian yang penuh perjuangan, pengorbanan hidup-mati? Aku yakin, kelak kalian pun bisa menjadi seseorang yang aku tulis. Menjadi ORANG BESAR, SUKSES, BERSAHAJA, ATAU YANG LAINNYA. tetapi tetap mengingat masa lalu, yang sedang kalian perjuangkan sehingga kalian bisa seperti ini. Cerita itu, menyenangkan.
Bahkan, seorang seniman Inggris abad 20 juga punya cerita dibalik karyanya. Goerge Noel Gordaon, Lord Byron (1788-1824) di dalam karyanya yang berisi :
"I have not loved the world, not the world me. This but a worthless world to win or lose."
Lalu, beberapa tahun kemudian, ia menulis :
http://lilyhayati7.blogspot.co.id/2015/02/ingris-periodee-romantisme-created-by.html
Copyright © Mentul Tepet